Selasa, 10 Maret 2009

Sang Kekasih Sejati

Aku melihat manusia,

Dan masing-masing dari mereka memilih seorang kekasih.

Sebagian ada yang menemani kekasihnya sampai sakit

yang membawanya pada kematian,

dan yang lainnya sampai ke sisi kuburnya.

Tapi setelah itu mereka kembali meninggalkannya (kedunia)

dan tidak ikut masuk kubur bersamanya.

Maka aku merenung dan mengharapkan seorang kekasih

yang menjadi sahabatku dan menemaniku didalam kubur.

Ternyata aku tidak mendapatkannya, kecuali amal shalih.

Maka itu aku memilihnya dan menjadikannya seorang kekasih,

agar kelak menjadi sahabat yang menyertaiku didalam kubur

Polemik Krisis Global

Sebuah fenomena yang terjadi saat ini telah menjadikan permasalahan yang sangat kompleks diseluruh belahan dunia. “Sebuah krisis global” begitu mereka menyebutnya, telah mempengaruhi keadaan negara-negara di dunia, mulai dari permasalahan perindustrian, perdagangan, bahkan sampai pada kesejahteraan manusia. Di Indonesia contohnya, dengan terjadinya krisis global ini telah berpangaruh kepada seluruh sektor kehidupan masyarakat. Mulai dari melambungnya harga-harga bahan pokok sampai kepada pemecatan massal “PHK” yang dilakukan perusahaan-perusahaan karena mereka tidak dapat melanjutkan produksi dikarenakan sulitnya mencari bahan-bahan produksi guna meneruskan kehidupan perusahaan.

Hal inilah yang mengindikasikan lahirnya sebuah regulasi pemerintah yang mereka sebut sebagai Surat Keputusan Bersama “SKB” 4 Menteri. Banyak opini yang mengatakan bahwa surat keputusan ini tidak memihak terhadap para pekerja, karena dalam keputusan ini tidak sedikit pun adanya intervensi pemerintah dalam menentukan besarnya upah yang di terima oleh para pekerja, dengan kata lain maka yang bertanggung jawab penuh terhadap besarnya upah yang diterima pekerja ialah perusahaan yang bersangkutan, maka perusahaan dapat menentukan berapapun yang mereka mau.

Hal ini dirasa sangat merugikan para pekerja karena perusahaan hanya memberikan upah yang sangat minim. Pasalnya dengan lahirnya krisis global ini maka harga kebutuhan bahan pokok pun ikut naik sementara upah yang mereka terima semakin kecil. Ini mungkin merupakan suatu pesan ataupun teguran bagi pemerintah yang secara konstitusional harus mampu mengayomi masyarakat menuju kemakmurannya.

Mungkin pemerintah harus mempertimbangkan kembali regulasi yang telah mereka keluarkan ”SKB 4 Menteri” yang sangat merugikan itu. Dan diharapkan kedepannya pemerintah dapat melindungi seluruh lapisan masyarakat dalam mencapai medium kesejahteraan masyarakatnya.

PENGETAHUAN ADALAH KEBAIKAN YANG MAHA BESAR

Tuhan telah mengatakan bahwa pengetahuan

adalah berkah yang paling agung, di mana

pun engkau menemuinya, renggutlah

dengan cepat.

Karena pengetahuan memberkahi sayap-sayap

dengan kata-kata dan senadung, pada

yang lemah ia anugerahi kemurnian

mutiara. Pengetahuan dapat mendekati

puncak langit dan sanggup merenggut

pandangan dari mata matahari

dikursusnya menjelaskan berbagai hal,

dan dengan usahanya tabir takdir

tersingkap. Bila pengetahuan

menginginkan gelembung udara dari pasir,

serta merta akan ditawarkan: bila

pengetahuan meminta lautan

memperlihatkan khayalannya, lautan

akan mengijinkannya. Mata sang

pengetahuan terus memandang waktu-

waktu tatkala semesta berubah, agar bisa

mendapatkan prinsip-prinsip dasar. Dan

bila hatinya terikat pada Tuhan, dia dapat

mencapai derajat kenabian: bila

pengetahuan melupakan Tuhan ia akan

turun menjadi atheis. Tercabut dari hati

yang bersinar, akan menjadikannya sebagai

kegelapan buat lautan dan daratan.

Kemolekannya meracuni dunia, musim

seminya menelanjangi pohon-pohon

kehidupan; lautan, padang rumput yang

hijau, gunung-gemunung dan kebun-

kebun dirusak dan diamuk oleh bom-bom

pengetahuan. Apinya melahap Eropa yang

mencintai pengrusakan. Pengetahuan

membuat derap langkah sang waktu

menjadi kesedihan dan merampas

kekayaan bangsa-bangsa. Kekuatannya

hanyalah menjadi sahabat setan yang

mengganti cahaya pengetahuan dengan api

setan. Untuk membunuhnya amatlah sulit

karena dia ada di kedalaman hati. Jauh

lebih baik bila engkau mengubahnya untuk

beriman dan membunuhnya dengan pedang

tajam Qur’an. Aku mencari tempat

perlindungan dari kekuatan yang tidak

memiliki kehormatan: aku takut apabila

perpisahan yang tidak memiliki harapan

membawa serta persatuan. Bila

pengetahuan diceraikan dari cinta, ia

hanyalah jadi keturunan setan: tapi bila

pengetahuan bercampur dengan cinta, dia

akan memiliki derajat ruh-ruh surgawi

yang tinggi. Cinta yang tercerabut dari

semua pengetahuan menjadi sedingin

kematian, sorot intelek tidak akan pernah

mencapai tujuannya. Tapi biarkan

pandangan cinta menyelamatkan

pandangan yang segar bagi siapa saja yang

buta dan terdampar dalam kegelapan:

buatlah seorang Haydar bagi Bu lahab.

Berbahagialah jiwa-jiwa yang resah mencari hakekat segala sesuatu,

Karena alam ini didedikasikan untuk kalian.”

Selamilah khasanah ilmu pengetahuan

Dan raihlah kenikmatannya, niscaya

Kau akan mendapatkan jawaban kehidupan.

“ Ilmu tanpa Agama buta, dan Agama tanpa Ilmu lumpuh ”

(Albert einstein)

Jumat, 28 November 2008

Manusia Penghuni Semesta Tujuuh Warna

Manusia penghuni semesta tujuh warna.
Kala meratap ia bagai lengking seruling.
Dengan segenap kerinduan jiwa yang
membakar wujudnya dan memintanya
bersenandung.
Melodi-melodi keindahan, ia menerawang
semesta ini, tempat segala yang mati
dihidupkan, tanpa iringan.
Denting detak debar jantung. Samudra,
belantara, bebukitan dan lembah-lembah
hening bening.
Matahari, rembulan dan langit tercenung dalam
diam.
Meski bintang-gemintang kelap-kelip di
angkasa, mereka lebih kesepian dari yang
lain, semua juga pecundang.
sebagaimana kita, para pengembara tanpa
daya di langit biru yang perkasa.
Mereka merakit sebuah kereta.
Meski tanpa perlengkapan, mereka tetap
melaju membelah semesta tak bertepi di
sepanjang malam-malam abadi.
Apakah aku seorang pemburu yang merenggut
dunia layaknya hewan buruan atau hanya
seorang sinting yang tak pernah peduli
tangisan batinnya: di mana anak Adam
akan menemukan sahabat?

Kemanakah Arah Pendidikan Kita

Qou Vadis Pendidikan Indonesia? (akan dibawa kemana pendidikan nasional kita), sepertinya masih sangat sulit bagi kita untuk mampu menemukan orientasi atau mengukur prestasi pendidikan bangsa ini. Semakin jauh kita menyelami dunia pendidikan nasional ternyata problematikanya semakin kompleks bagai mengurai benang kusut yang tak jelas mana ujung dan pangkalnya. Tidak usah kita berbicara tentang substansi atau bagaimana model sistem pendidikan yang humanis yang ideal untuk diterapkan guna pendidikan yang lebih berkualitas, bahkan ketika kita meccoba untuk mengupas fragmen parsial seperti dari sisi kebijakan atau regulasi, malah hanya akan membuat kita semakin geleng-geleng kepala. Dimana 20% anggaran APBN untuk pendidikan belum terealisasi, ditambah lagi dengan tidak adanya keseriusan dan arah kebijakan yang jelas untuk pemerataan pendidikan namun di satu sisi muncul kebijakan gila yang sangat tidak logis tentang standarisasi penilaian pendidikan di tengah segala keterbatasan yang ada. Atau memang pendidikan bukan menjadi prioritas utama pemerintah dalam konsep pembangunan bangsa ini, tapi yang semua kita tahu bahwa pendidikanlah yang menjadi cikal bakal lahirnya manusia-manusia Indonesia yang unggul dan berkualitas. Sudah saatnya pemerintah tidak lagi buta tuli atas segala realitas sosial seputar pendidikan bangsa ini, konsisten pada satu komitmen untuk segera merealisasikan 20 % anggaran APBN bagi pendidikan.
“Tidak ada lagi toleransi, tawar menawar dan politik dagang sapi
Atau mahasiswa kembali ke jalan…!”

Potret Hitam Perdagangan Bebas

Globalisasi menjadi sebuah keniscayaan bagi seluruh Negara di dunia yang
secara definitif memiliki makna adanya sebuah proses menuju peningkatan hubungan
antara berbagai masyarakat di seluruh dunia. Jadi hubungan internasional yang
menjunjung nilai-nilai sosial demokratis, kesetaraan, kesamaan hak dan distribusi
kesejahteraan dalam upaya peningkatan taraf hidup sebagai wujud transformasi
masyarakat, itulah seharusnya yang menjadi orientasi ndalam laju gerbong globalisasi.
Namun kenyataan yang sangat paradoksal tumbuh seiring dengan kemunculan
perdagangan bebas (Free Trade) sebagai aspek parsial dalam globalisasi itu sendiri,
yang justru membawa semangat yang berbeda dan bertentangan dengan hakikat
globalisasi dimana orientasi utamanya adalah peningkatan kekuatan dan pengaruh
Negara-Negara maju dunia melalui tangan-tangan korporasi transnasionalnya di seluruh
dunia dengan ideologi konsumerisme dan etos pembangunan yang ditekankan
sepenuhnya pada pengambilan keuntungan (akumulasi kapital).
Perdagangan bebas ini sejatinya hanyalah media Negara-negara ekonomi yang
tangguh ndalam memuluskan kepentingannya untuk memasarkan produk dalam
negerinya keseluruh penjuru dunia dengan tanpa batas, tanpa proteksi, tidak adanya
regulasi yang mengikat dan tanpa intervensi pemerintah sebuah Negara. Namun juga
harus diingat bahwa selain perdagangan barang dan jasa yang bebas keluar masuk
sebuah Negara serta investasi, tenaga kerja-pun nantinya juga menjadi bagian yang
akan meramaikan pasar local. Bayangkan bagaimana jadinya kondisi mayoritas Negara
di dunia yang masih miskin dan berkembang termasuk Indonesia tanpa adanya campur
tangan pemerintah dalam menghadapi ancaman perdagangan bebas ini. Bisa
dipastikan berbagai pilar ekonomi local akan mati, hilang dan tersingkir dengan geliat
investasi asing dan membanjirnya komoditi luar, belum lagi bagaimana harus
menyelamatkan SDM yang masih harus ditingkatkan kualitasnya ketika harus bersaing
dengan tenaga kerja luar yang tidak hanya menonjolkan kecerdasan namum juga good
performance. Mungkin bagi meraka yang memiliki budaya konsumtif dan mempunyai
kekuatan modal, perdagangan bebas ini menjadi surga yang indah. Tapi kita jangan
sampai terjebak dengan jargon-jargon bahwa perdagangan bebas akan mampu
meningkatkan lapangan pekerjaan ataupun slogan pembangunan infrastrktur dalam
negeri, toh pada kenyataannya kita hanya akan dijadikan pengemis di atas tanah
moyang kita, hanya akan menjadi orang asing dalam rumah sendiri karena semua yang
berdiri megah di Indonesia nantinya bukannlah milik anak bangsa melainkan
penjilat-penjilat benua biru (konstelasi Negara maju).